Tangsel – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangerang Selatan menggelar Kajian Lintas Agama (KLA) perdana di RM Jasunda, Serpong Utara, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema kajian agama Islam ini bertujuan memperkuat pemahaman, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama di Kota Tangsel.
Kegiatan dihadiri pengurus FKUB Tangsel periode 2024-2029, perwakilan komunitas keagamaan, serta sejumlah tokoh, di antaranya Tenaga Ahli Wali Kota Tangsel bidang Kerukunan Umat Beragama KH Hamdani.

Selain itu, hadir pula Wakil Ketua I FKUB Tangsel Prof. Thomas Kartomo, Sekretaris FKUB Dr. Masruri, Sekretaris Umum MUI Tangsel Dr. Abdul Rojak, dan Wakil Ketua II FKUB Ustadz M. Taslim sebagai narasumber.
Mewakili Ketua FKUB Tangsel, Prof. Thomas Kartomo mengatakan Kajian Lintas Agama merupakan program positif yang dapat memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.
“Dan sesungguhnya untuk bisa menopang kerukunan antar umat beragama itu harus didukung oleh elemen-elemen lembaga dan kelompok komunitas keagamaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Karena sikap pemahaman agama itu akan menjadi bermasalah jika masing-masing pemeluk agama tidak dapat memahami dan menghargai para pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama lainnya,” ujar Prof Thomas.

Dia berharap peserta dapat menyebarluaskan nilai-nilai yang diperoleh dalam kajian kepada masyarakat sehingga toleransi dapat tumbuh tanpa mengabaikan ajaran agama masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris FKUB Tangsel, Dr. Masruri, menyoroti pentingnya dukungan anggaran bagi FKUB. Ia mengungkapkan hasil studi banding FKUB ke sejumlah daerah menunjukkan dukungan hibah pemerintah daerah terhadap FKUB dan lembaga keagamaan cukup besar.
“Kami berharap tahun berikutnya Pemkot Tangerang Selatan dapat memberikan dana hibah kepada FKUB Kota Tangsel jauh lebih besar lagi, agar biaya operasional pengurus FKUB dan juga program kegiatan yang dilakukan dapat jauh lebih maksimal hasilnya,” kata Masruri.
Menurutnya, sebagai kota yang memiliki masyarakat heterogen, upaya menjaga kerukunan beragama harus didukung program yang berkelanjutan dan memadai.
Sekretaris Umum MUI Kota Tangerang Selatan, Dr. Abdul Rojak, turut mengapresiasi pelaksanaan Kajian Lintas Agama tersebut. Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan untuk menyamakan ajaran agama, melainkan membangun pemahaman dan sikap saling menghormati antarumat beragama.
“Dan dengan adanya kegiatan KLA ini, kami MUI Kota Tangerang Selatan mengharapkan agar sikap toleransi antar umat beragama di Kota Tangerang Selatan dapat berjalan dengan sangat baik,” ujarnya.

Abdul Rojak juga mendorong agar program penguatan toleransi masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Selatan.
“Memang idealnya FKUB itu diberikan pagu anggaran kurang lebih Rp5 miliar per tahunnya. Karena merawat kebhinnekaan dan toleransi antar umat beragama itu tidaklah mudah tanpa di-support dengan anggaran yang cukup dan memadai,” tegasnya.

Sementara itu, KH Hamdani menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kondisi kerukunan umat beragama di Tangsel selama ini berjalan baik dan perlu terus dipertahankan.
“Atas nama Wali Kota saya sangat mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan kajian yang temanya kajian lintas agama. Dan dalam kesempatan ini kami mengajak kepada seluruh komunitas keagamaan yang ada di Kota Tangsel agar kita dapat terus menjaga sikap toleransi antar umat beragama,” kata Hamdani.
Dia juga berjanji akan menyampaikan kebutuhan FKUB terkait dukungan anggaran operasional kepada Wali Kota Tangerang Selatan.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ustadz M. Taslim yang dipandu moderator KH Sanusi. Dalam materinya, Ustadz Taslim menekankan pentingnya nilai kasih sayang, kerja sama, dan kolaborasi sebagai fondasi kehidupan yang harmonis.
“Tuhan itu menyuruh kita, menganjurkan kita dan memerintah kepada kita hamba-Nya untuk saling mengasihi dan menyayangi. Yang kedua, kita hidup itu tidak boleh merusak, kita harus melakukan kolaborasi, ada kerja sama dan ada kesatuan, nah di situ baru akan ada keharmonisan,” tutur Ustadz Taslim.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut telah diwariskan para nabi dan menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang damai serta saling menghormati perbedaan.






