BOGOTA – Kolombia dilanda bencana besar setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat negara tersebut pada Senin (10/8/2026) waktu setempat.
Guncangan kuat itu menimbulkan kerusakan luas dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran. Jumlah korban jiwa juga terus bertambah seiring petugas melakukan pencarian di sejumlah lokasi terdampak.
Data terbaru pemerintah yang dikutip media setempat menyebut sedikitnya 132 orang meninggal dunia, sementara sekitar 570 lainnya mengalami luka-luka.
Sebelumnya, pemerintah Kolombia melaporkan 111 korban meninggal dan 87 orang terluka.
Gempa tersebut berpusat di sekitar wilayah San Jose del Palmar, Departemen Choco, di bagian barat Kolombia. Getarannya dirasakan di sejumlah kota, termasuk wilayah yang jauh dari pusat gempa.
Kerusakan terjadi pada bangunan permukiman maupun fasilitas publik. Puluhan bangunan dilaporkan runtuh, sementara warga di sejumlah daerah harus meninggalkan rumah mereka karena khawatir terhadap gempa susulan.
Badan Geologi Kolombia menyebut gempa tersebut sebagai salah satu yang terkuat yang pernah tercatat di negara itu pada abad ke-21. Setelah gempa utama, sejumlah gempa susulan turut terjadi.
Situasi semakin berat karena beberapa warga dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan. Tim penyelamat dikerahkan untuk menyisir bangunan yang ambruk sekaligus mengevakuasi korban.
Pemerintah Kolombia kemudian menetapkan status darurat nasional. Kebijakan tersebut ditempuh untuk mempercepat mobilisasi bantuan, pendanaan pemulihan, serta penanganan masyarakat yang terdampak bencana.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan pemerintah akan mengerahkan seluruh sumber daya untuk menyelamatkan korban dan membantu warga yang kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, perhatian juga tertuju pada keselamatan warga negara asing yang berada di Kolombia. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Bogota sebelumnya memastikan WNI yang berada di sejumlah wilayah terdampak dalam kondisi aman berdasarkan komunikasi dan pemantauan yang dilakukan.
Operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Otoritas setempat juga terus melakukan pendataan karena jumlah korban maupun kerusakan berpotensi berubah seiring proses evakuasi dan pemeriksaan di lapangan.






