Kerajaan Singasari luluh lantak oleh serangan Jayakatwang. Saat itu Singasari dipimpin oleh Kertanagara raja terakhir di Tumapel, ibu kota Kerajaan Singasari. Singasari dihancurkan oleh pengkhianatan kerajaan bawahannya sendiri di Gelang-gelang yang dipimpin Jayakatwang.
Gelang-gelang sendiri konon masih terikat erat dengan sejarah Kerajaan Kediri. Tapi ada pendapat lain yang menyebut Gelang-gelang dianggap sebagai kemenakan Wisnuwardhana, yang bergelar Sang Mapanji Seminingrat, Raja Singasari yang mampu menyatukan dua kubu di Singasari yang bertikai.
Pada Kakawin Nagarakretagama Pupuh XLIV / 1 – 2 dikisahkan, asal-usul Jayakatwang. Di kakawin yang digubah oleh Mpu Prapanca itu dideskripsikan Jayakatwang sebagai pribadi yang jahat dan berkhianat terhadap Sri Kertanagara, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
Memang sepeninggal Kertajaya wilayah Kerajaan Kediri sepenuhnya dikuasai oleh Singasari. Makanya Jayakatwang yang masih keturunan Kerajaan Kediri mencoba ingin memisahkan diri dari kekuasaan Singasari. Sosoknya merupakan keturunan raja-raja di Kediri.
Sejarawan Prof. Slamet Muljana pada bukunya “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” mengatakan, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi memang sudah berhasil membuat Kerajaan Kediri tamat. Tapi baginya wilayah Kediri tetaplah dikuasai oleh keturunan Kertajaya, termasuk Jayakatwang sendiri.
Meskipun sebenarnya Jayakatwang berkuasa atas wilayah Gelang-gelang di bawah Kerajaan Singasari. Lokasi Gelang-gelang sendiri ada yang menafsirkan berada di barat dari Kediri. Berdasrkan Prasasti Mula-malurung diperoleh lokasi Gelang-gelang identik dengan Madiun.
Artefak lain pada Prasasti Kudadu mengungkap, hubungan jelas antara Jayakatwang dan Kertanagara. Dimana Jayakatwang memiliki anak bernama Ardaraja atau yang dikenal Raden Wijaya. Pangeran Ardaraja itu lalu diambil menjadi menantu alias dinikahkan dengan putri dari Kertanagara, Raja Singasari.
Ardaraja menjadi abdi dan memiliki jabatan strategis di Singasari. Sang pangeran menjadi salah satu pemimpin pasukan perang Singasari, di saat pasukan penjaga keamanan di dalam negeri sedang sepi usai ditinggal melakukan Ekspedisi Pamalayu, atau ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Semenanjung Melayu.






