Tangsel — Yayasan Syarif Hidayatullah menetapkan status siaga setelah adanya dugaan upaya pengambilalihan aset sekolah di wilayah Ciputat. Pengamanan kini diperketat di sejumlah lokasi, termasuk Pamulang.
Ketua yayasan, Ilham Aufa, mengatakan kejadian tersebut bukan yang pertama. Ia menyebut sudah tiga kali percobaan serupa terjadi, terakhir di akhir Ramadan.
“Peristiwanya cepat. Mereka sempat masuk siang hari lalu mundur malamnya,” ujarnya.
Meski tidak berlangsung lama, yayasan khawatir aksi serupa akan terulang. Informasi internal soal agenda “pengamanan aset negara” juga disebut menambah kekhawatiran.
Sebagai langkah antisipasi, pengamanan diperkuat di seluruh area sekolah yang dikelola yayasan, termasuk di Pamulang dan Triguna.
Di sisi lain, yayasan memilih menempuh jalur hukum dengan menggugat ke PTUN. Prosesnya saat ini masih berjalan di tahap pembuktian.
Kasus ini bermula dari polemik sewa lahan sekolah seluas 1,1 hektare. Awalnya, yayasan membayar sekitar Rp1 miliar per tahun, namun tiba-tiba naik menjadi Rp4 miliar dan ditolak oleh pihak yayasan.
Ilham menegaskan, objek sewa hanya tanah, bukan bangunan atau sistem pendidikan yang sudah berjalan lama.
“Kalau soal aset, harusnya tanah saja, bukan semuanya,” tegasnya.
Ia juga menilai bangunan sekolah tidak bisa langsung diklaim sebagai aset negara, karena awalnya dibangun oleh pihak non-pemerintah.
Konflik makin memanas sejak awal 2025, saat operasional sekolah disebut mulai dikendalikan pihak lain. Namun, secara legal, izin masih atas nama yayasan.
Dampaknya mulai terasa ke siswa. Aktivitas sekolah disebut berkurang, meski biaya tetap berjalan. Saat ini, jumlah siswa mencapai sekitar 1.500 orang.
Selain itu, yayasan juga menyoroti dugaan peralihan kepemilikan yang dinilai bermasalah secara hukum.
Meski situasi sempat tegang, pihak yayasan menegaskan tetap mengedepankan jalur hukum.
“Kami ingin masalah ini selesai secara baik dan sesuai aturan,” kata Ilham.
Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di sekolah Triguna, Ciputat, saat sekelompok orang diduga masuk paksa dan merusak akses. Peristiwa itu sempat membuat warga resah.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kejadian tersebut.






