Advertisement
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Politik & Pemerintahan
  • Pendidikan & Teknologi
  • Internasional
  • Traveling & Entertain
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Politik & Pemerintahan
  • Pendidikan & Teknologi
  • Internasional
  • Traveling & Entertain
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home News

Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

admin by admin
July 17, 2026
in News, Sports
0
Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

Tangsel – Di saat remaja seusianya mulai mengenakan seragam baru dan mengenal lingkungan sekolah, Bunga Sekar Anjani (15) justru sedang berada jauh dari rumah.

Atlet sepak bola putri asal Tangerang Selatan (Tangsel) itu tengah berjuang membawa nama Indonesia dalam ajang internasional di Swedia.

Namun, kabar kurang menyenangkan datang dari tanah kelahirannya. Di tengah perjuangannya di lapangan hijau, Bunga dinyatakan tidak lolos masuk SMA Negeri melalui jalur prestasi non akademik dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.

FOTO : Atlet Putri Tangsel tersingkir dari SPMB 2026

Bagi keluarga, hasil tersebut terasa ironis. Prestasi yang mengantarkan Bunga berlaga hingga tingkat internasional ternyata belum cukup membukakan pintu sekolah negeri di daerahnya sendiri.

Ayah Bunga, Agus, sejak awal menggantungkan harapan pada jalur prestasi nonakademik. Jalur domisili dinilai sulit ditempuh karena rumah mereka di Lengkong Gudang cukup jauh dari sekolah negeri yang dituju.

“Saya memang dari awal memilih jalur prestasi nonakademik karena anak saya punya beberapa prestasi. Kalau lewat jalur domisili peluangnya kecil. Rumah kami di Lengkong Gudang, sementara sekolah negeri yang dituju cukup jauh,” ujar Agus, Jumat (17/07/26).

Jalur prestasi menjadi tumpuan utama keluarga bukan tanpa alasan. Sepanjang kelas III SMP, waktu Bunga lebih banyak tercurah untuk pemusatan latihan dan mengikuti berbagai kejuaraan sepak bola.

Kesibukan tersebut membuat kemampuan akademiknya tidak terlalu menonjol. Namun, di lapangan hijau, Bunga mampu membuktikan diri hingga mendapat kesempatan membawa nama Indonesia ke Swedia.

Harapan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah negeri mulai menghadapi jalan berliku sejak proses pendaftaran. Agus mengaku sistem pendaftaran daring beberapa kali mengalami gangguan.

Ia terpaksa bolak-balik ke SMAN 2 Tangerang Selatan hingga empat kali hanya untuk menyelesaikan proses verifikasi.

“Saya sudah berkali-kali mencoba secara online tetapi selalu gagal. Akhirnya saya datang langsung ke sekolah. Sampai tiga atau empat kali bolak-balik ke SMAN 2 hanya untuk proses verifikasi,” katanya.

Kesulitan berikutnya muncul ketika dokumen prestasi harus diunggah. Menurut Agus, sistem hanya menyediakan ruang untuk satu sertifikat, sementara Bunga memiliki sejumlah piagam dari berbagai kejuaraan.

Beberapa di antaranya merupakan sertifikat juara pertama. Namun, dokumen yang diajukan keluarga berulang kali ditolak karena disebut belum terdaftar di Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

“Saya membawa beberapa sertifikat langsung ke sekolah agar bisa diverifikasi. Tetapi sertifikat yang kami ajukan terus ditolak karena disebut belum terdaftar di PERNAS. Saya mencoba menggunakan sertifikat SKF tingkat nasional pun tetap ditolak dengan alasan yang sama,” ungkapnya.

Agus kemudian meminta bantuan pengurus PSSI tingkat provinsi. Berkat rekomendasi tersebut, sertifikat prestasi Bunga akhirnya dapat diverifikasi oleh pihak sekolah.

Keluarga sempat bernapas lega. Mereka mengira selesainya proses verifikasi menjadi pertanda bahwa peluang Bunga diterima semakin terbuka.

Namun, ketika hasil seleksi diumumkan, nama Bunga tidak tercantum sebagai calon murid yang lolos di SMAN 2 Tangsel.

“Saya kira setelah verifikasi selesai semuanya aman. Tetapi saat hasil diumumkan, anak saya tetap tidak diterima. Hasilnya juga baru muncul setelah menunggu hampir setengah hari tanpa ada penjelasan kenapa tidak diterima,” tuturnya.

Agus belum menyerah. Ia kembali mencoba mendaftarkan putrinya ke SMAN 7 Tangsel. Harapan keluarga kembali digantungkan pada layar sistem pendaftaran sejak pagi hingga menjelang tengah malam.

“Saya daftar sejak pagi. Menunggu sampai siang, sore, bahkan hampir pukul 23.00 malam. Nama anak saya tidak juga muncul dalam sistem. Akhirnya hasilnya tetap tidak diterima,” katanya.

Kegagalan Bunga menembus dua SMA Negeri turut mengundang kekecewaan Ketua PSSI Kota Tangsel, Muhammad Iyon. Ia menyatakan seluruh persyaratan administrasi telah dilengkapi, mulai dari sertifikat prestasi hingga surat rekomendasi cabang olahraga dan KONI.

“Dari awal kami daftarkan ke SMAN 2 Tangerang Selatan tidak ada respons. Kemudian kami coba alternatif kedua ke SMAN 7 Tangerang Selatan, hasilnya juga nihil. Berkasnya tidak dilihat, bahkan tidak disentuh sejak jauh-jauh hari,” ujar Iyon.

Bagi Iyon, kisah Bunga bukan sekadar persoalan gagal mendapatkan bangku sekolah. Kasus tersebut menjadi gambaran ironi yang dihadapi atlet pelajar ketika prestasi olahraga belum sepenuhnya mendapat tempat dalam sistem pendidikan.

“Kalau anak berprestasi saja ditolak, lalu apa visi dan misi sekolah tersebut? Kami bekerja keras membina atlet agar bisa mengangkat nama baik daerah. Tetapi setelah mereka berprestasi, dukungan dari dunia pendidikan justru tidak ada,” tegasnya.

Kekecewaan itu juga dirasakan para orang tua atlet binaan. Mereka berharap kerja keras anak-anaknya dalam latihan dan kejuaraan memperoleh penghargaan, salah satunya berupa akses pendidikan melalui jalur prestasi.

Iyon meminta Gubernur Banten mengevaluasi pelaksanaan SPMB yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, khususnya di Kota Tangerang Selatan.

“Saya khawatir kalau kondisi ini terus dibiarkan akan muncul dugaan praktik jual beli bangku sekolah. Ini bertentangan dengan semangat sekolah gratis yang selama ini digaungkan. Gratis saja sulit, apalagi untuk siswa berprestasi,” ujarnya.

PSSI Kota Tangsel berharap kepulangan Bunga dari Swedia tidak hanya disambut sebagai atlet yang telah membawa nama Indonesia. Pemerintah Provinsi Banten juga diharapkan memberikan ruang agar ia tetap dapat melanjutkan pendidikan di SMA Negeri.

Kisah Bunga menyisakan pertanyaan tentang makna jalur prestasi dalam SPMB. Jika seorang atlet yang telah berlaga membawa nama Indonesia belum memperoleh tempat, sejauh mana jalur tersebut benar-benar mampu mengakomodasi perjuangan siswa berprestasi nonakademik?.

Sementara, pihak SMAN 2 dan SMAN 7 Tangsel, serta Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Wilayah Kota Tangsel, belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan itu.

Share this…
  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
Previous Post

Segel Pol PP di Proyek Cluster Privana Pamulang Ditutupi Terpal, Lurah Mengaku Tak Tahu

admin

admin

Stay Connected test

  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

July 17, 2026
Segel Pol PP di Proyek Cluster Privana Pamulang Ditutupi Terpal, Lurah Mengaku Tak Tahu

Segel Pol PP di Proyek Cluster Privana Pamulang Ditutupi Terpal, Lurah Mengaku Tak Tahu

July 16, 2026
Terapkan Sekolah Hijau, SDN Keranggan Bidik Adiwiyata Nasional 2026

Terapkan Sekolah Hijau, SDN Keranggan Bidik Adiwiyata Nasional 2026

July 14, 2026
Hari Pertama MPLS SMP Negeri di Tangsel Bikin Siswa Terpukau

Hari Pertama MPLS SMP Negeri di Tangsel Bikin Siswa Terpukau

July 14, 2026

Recent News

Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

Berlaga di Swedia, Atlet Putri Justru Tersingkir dari Jalur Prestasi 2 SMAN Tangsel

July 17, 2026
Segel Pol PP di Proyek Cluster Privana Pamulang Ditutupi Terpal, Lurah Mengaku Tak Tahu

Segel Pol PP di Proyek Cluster Privana Pamulang Ditutupi Terpal, Lurah Mengaku Tak Tahu

July 16, 2026
Terapkan Sekolah Hijau, SDN Keranggan Bidik Adiwiyata Nasional 2026

Terapkan Sekolah Hijau, SDN Keranggan Bidik Adiwiyata Nasional 2026

July 14, 2026
Hari Pertama MPLS SMP Negeri di Tangsel Bikin Siswa Terpukau

Hari Pertama MPLS SMP Negeri di Tangsel Bikin Siswa Terpukau

July 14, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Susunan Redaksi
  • Tentang GentaBerita.com

© 2024 GentaBerita.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Politik & Pemerintahan
  • Pendidikan & Teknologi
  • Internasional
  • Traveling & Entertain

© 2024 GentaBerita.com