Jakarta – Perjalanan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menuju kursi Kapolri berlangsung panjang. Sebelum dipercaya memimpin Korps Bhayangkara, Suyudi melewati berbagai posisi strategis, mulai dari dunia reserse, pimpinan kepolisian wilayah, hingga Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).
Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003 dan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) pada 2018.
Kariernya di kepolisian banyak bersentuhan dengan bidang reserse. Suyudi pernah bertugas di lingkungan Polda Metro Jaya, termasuk sebagai Kanit II Resmob. Pengalamannya kemudian membawanya dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis di tingkat kewilayahan dan Bareskrim Polri.
Ia tercatat pernah menjabat Kapolres Majalengka pada 2014, Kapolres Bogor pada 2015, serta Kapolres Metro Jakarta Pusat pada 2017. Suyudi juga pernah dipercaya sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Kariernya terus menanjak hingga pada 2023 Suyudi ditunjuk sebagai Wakapolda Metro Jaya. Setahun berselang, ia mendapat amanah sebagai Kapolda Banten.
Saat memimpin Polda Banten pada 2024, tercatat 4.155 tindak pidana ditangani. Angka itu meningkat dibandingkan 2023 yang mencapai 3.603 perkara. Sementara penyelesaian perkara mencapai 3.509 kasus, naik dari 2.081 perkara pada tahun sebelumnya.
Perjalanan Suyudi kemudian memasuki babak baru ketika Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Kepala BNN pada Agustus 2025. Sebulan kemudian, pangkatnya dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal atau jenderal bintang tiga.
Di BNN, Suyudi berhadapan langsung dengan jaringan narkotika berskala besar. Pada September 2025, BNN mencatat pengungkapan 11 jaringan narkoba dengan 53 tersangka dan barang bukti lebih dari 503,7 kilogram berbagai jenis narkotika.
Barang bukti itu terdiri dari 60,2 kilogram sabu, 441,3 kilogram ganja, 1,3 kilogram kokain, serta sejumlah ekstasi dan bahan kimia. BNN memperkirakan pengungkapan itu dapat mencegah ancaman narkotika terhadap lebih dari 1,1 juta jiwa.
Salah satu operasi besar berlangsung di Kampung Bahari, Jakarta Utara, pada November 2025. Dalam operasi gabungan BNN dan Polri pada 7 November, Suyudi memimpin sekitar 700 personel.
Dari operasi itu, petugas menyita sekitar 89,16 kilogram sabu, 91,53 gram ganja, 159 butir ekstasi, uang tunai sekitar Rp1,46 miliar, serta uang palsu Rp5,5 juta. Sembilan tersangka turut diamankan.
Suyudi juga terlibat dalam pengejaran buronan internasional Dewi Astutik alias Mami yang dikaitkan dengan kasus penyelundupan dua ton sabu.
Dewi akhirnya ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, pada 1 Desember 2025. Operasi itu melibatkan BNN, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, BAIS TNI, serta Bea dan Cukai.
BNN menyebut Suyudi sebelumnya memerintahkan pembentukan tim khusus untuk mengejar buronan itu. Operasi lapangan kemudian dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Roy Hardi Siahaan.
Setelah melewati berbagai jabatan dan pengalaman menangani perkara besar, Suyudi akhirnya dipercaya menduduki posisi tertinggi di institusi Polri.
DPR RI menyetujui Suyudi sebagai Kapolri dalam rapat paripurna pada Kamis, 1 Oktober 2026, setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR.
Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dengan pengalaman panjang di bidang reserse, kepemimpinan kewilayahan, serta pemberantasan narkotika, Suyudi kini memimpin institusi Polri.





