TEHERAN — Iran mengeluarkan sejumlah ancaman terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di tengah meningkatnya kekhawatiran akan berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Teheran memperingatkan bahwa serangan baru terhadap wilayahnya dapat memicu aksi balasan dengan cakupan lebih luas.
Salah satu pernyataan paling keras datang dari Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran. Ia memperingatkan bahwa Israel dapat dibuat tidak layak huni dalam waktu satu jam apabila kembali menyerang Iran.
Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan berbahasa Ibrani di media sosial dan dilaporkan kantor berita Tasnim. Azizi juga membagikan peta yang menggambarkan infrastruktur Israel sebagai bagian dari pesan ancamannya.
Selain itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Teheran siap memberikan respons yang tidak terduga terhadap setiap serangan yang mengancam keutuhan wilayah negaranya. Ia menegaskan bahwa tekanan militer dan ancaman pembunuhan terhadap pejabat Iran tidak akan membuat negaranya meninggalkan kepentingan nasional.
Ancaman tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali membuka kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan pecahnya kembali pertempuran berskala besar setelah gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April 2026.
Berikut empat bentuk ancaman Iran yang berpotensi memperluas konflik jika serangan AS dan Israel kembali terjadi.
1. Mengancam Melumpuhkan Wilayah Israel dalam Satu Jam
Ancaman pertama disampaikan Azizi yang menyatakan bahwa Iran dapat membuat Israel tidak layak dihuni dalam waktu satu jam apabila kepentingan keamanan dan nasional negaranya kembali diserang.
Pernyataan tersebut menunjukkan kerasnya pesan yang ingin disampaikan Teheran kepada Washington dan Tel Aviv. Meski demikian, klaim mengenai kemampuan melumpuhkan wilayah Israel dalam waktu satu jam itu merupakan pernyataan pejabat Iran dan belum dapat diperlakukan sebagai kemampuan militer yang telah terbukti.
2. Menyiapkan Serangan Balasan yang Lebih Luas
Iran juga memperingatkan bahwa respons terhadap serangan baru tidak akan terbatas pada satu aksi militer. Pejabat-pejabatnya menyatakan Teheran siap memberikan balasan yang tidak terduga apabila wilayah dan kepentingan nasionalnya kembali menjadi sasaran.
Sebelumnya, sejumlah pejabat senior Iran menyebut rencana respons berikutnya dapat mencakup target yang lebih luas dibandingkan serangan sebelumnya. Laporan Reuters pada 1 Oktober 2026 menyebut para pejabat Iran tengah mempertimbangkan perluasan sasaran, termasuk aset yang berkaitan dengan AS dan negara-negara yang mendukung operasi militernya.
Namun, laporan itu juga menyebut belum ada keputusan final mengenai pelaksanaan rencana tersebut.
3. Memperluas Ancaman ke Pangkalan Militer AS
Pangkalan dan kepentingan militer AS di kawasan Timur Tengah juga berpotensi menjadi sasaran jika konflik kembali meningkat. Dalam konflik sebelumnya, Iran melancarkan serangan balasan terhadap Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan.
Teheran memandang keberadaan pasukan AS di kawasan sebagai bagian dari persoalan keamanan yang lebih luas. Karena itu, ancaman serangan balasan berpotensi melibatkan lebih banyak lokasi apabila Washington kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Perluasan sasaran semacam itu dapat meningkatkan risiko keterlibatan negara-negara lain di kawasan, terutama apabila serangan menyentuh wilayah atau fasilitas yang berada di bawah yurisdiksi mereka.
4. Mengancam Memperluas Konflik ke Jalur Strategis Regional
Iran juga mengisyaratkan bahwa konflik tidak harus terbatas pada wilayah darat dan udara. Jalur pelayaran strategis serta infrastruktur penting di kawasan Teluk berpotensi terdampak apabila perang kembali meluas.
Laporan Reuters pada awal Oktober menyebut Iran tengah menyiapkan kemungkinan respons yang lebih besar jika AS kembali melancarkan serangan berskala luas. Sementara itu, laporan The Guardian pada 22 Oktober menyebut pejabat Iran mengancam fasilitas minyak, kabel bawah laut, pusat data, dan infrastruktur kecerdasan buatan di sejumlah negara Teluk jika serangan AS-Israel kembali terjadi.
Ancaman terhadap infrastruktur tersebut menjadi perhatian karena kawasan Teluk memiliki peran penting dalam pasokan energi dan jaringan komunikasi internasional. Gangguan berkepanjangan dapat berdampak melampaui negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik.
Hingga kini, berbagai ancaman yang disampaikan pejabat Iran tersebut perlu dibedakan dari keputusan resmi untuk melancarkan operasi militer. Pelaksanaan dan dampak dari setiap skenario tetap bergantung pada perkembangan situasi, keputusan politik, serta respons pihak-pihak yang terlibat.





