Kota Tangerang – Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menggelar tasyakuran atas usia seratus tahun atau seabad keberadaannya di Indonesia. Perjalanan panjang yang dimulai sejak tahun 1925 itu penuh dengan dinamika dan tantangan.
Acara tasyakuran dengan istilah Jalsah Salanah itu dilaksanakan di area Masjid Mahmudah, Jalan Rahmat Ali HAOT, Gondrong Kenanga, Cipondoh, Kota Tangerang, Sabtu 6 Desember hingga Minggu 7 Desember 2025.
Tercatat, ada sekira 2.392 jemaat dari berbagai wilayah hadir di lokasi. Tasyakuran rutin tahunan ini mengundang pula pejabat Kementerian agama, cendekiawan, akademisi, hingga tokoh lintas agama dan organisasi islam.
Juru Bicara JAI, Yendra Budiana, menerangkan, Jalsah Salanah ini dilakukan secara terbuka agar masyarakat Indonesia memahami secara utuh tentang ajaran Ahmadiyah yang ternyata bertolakbelakang dari stigmaisasi selama ini.
“Menurut penelitian, masyarakat Indonesia yang tahu tentang Ahmadiyah itu hanya 12 persen. Catatannya hanya tahu, jadi bukan paham Ahmadiyah itu seperti apa. Oleh karena itu bayangkan, 88 persen masyarakat Indonesia itu tidak tahu Ahmadiyah,” katanya di lokasi.
“Sehingga karena ketidaktahuan itu, ketidakjelasan informasi itu yang seringkali menjadi salah paham,” imbuhnya.
Dijelaskan dia, hal-hal mendasar yang dilabeli ‘menyimpang’ kepada Ahmadyah diantaranya soal kitab suci, nabi terakhir, hingga kalimat syahadat dan solat
“Pertama, bahwa Ahmadiyah itu kitab sucinya bukan Al-Quran tapi Tazkiroh, padahal Ahmadiyah baru 1 bulan kemarin itu menyelenggarakan Musabaqoh Tilawatil Quran,” jelasnya.
Bahkan, kata dia, JAI justru memiliki program utama menerjemahkan Al-Quran ke dalam 100 bahasa dunia. “Kenapa? karena kita ingin nilai-nilai islam menjadi rahmat bagi sekalian alam sesuai dengan nubuwwatan (wahyu) daripada nabi besar Muhammad SAW,” ungkapnya.
Begitupun dengan pengingkaran siapa nabi terakhir, menurutnya pada setiap mimbar-mimbar masjid Ahmadiyah jelas terdapat simbol lafazh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
“Jadi bukan Allah dan Mirza Gulam Ahmad, tidak penah ada. Artinya memang nabi kita adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi kesalahpahaman, ketidaktahuan informasi inilah yang seringkali membangun prasangka yang berujung pada kebencian dan persekusi,” ucap Yendra.
Dia sendiri menganggap, stigmaisasi dan diskriminasi yang dialami selama ini merupakan bagian dari tantangan perjuangan. Untuk itu, menangkalnya harus dengan melakukan introspeksi diri agar bisa menjadi lebih inklusif.
“Jadi seratus tahun Jemaat Ahmadiyah tantangannya apa? kalau kami lebih introspeksi pada diri kami, agar kami kebih massif lagi, lebih transparan menyampaikan informasi, membangun pertemuan (inklusif) sebanyak mungkin dan alamiah,” pungkasnya.






