Tangerang Selatan – Status tanggap darurat penanganan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) telah diperpanjang hingga 19 Januari 2026. Tapi tumpukan sampah masih membanjiri berbagai titik di kota ini.
Sampah-sampah dalam kemasan plastik menumpuk di pinggir jalan raya, depan kios, depan pasar, bantaran Kali Angke, hingga lahan kosong milik pengembang BSD di Serpong.
Pantauan pada Kamis 15 Januari 2026 siang, sampah-sampah dalam kemasan platik itu menumpuk di pinggir jalan raya, depan kios, depan pasar, bantaran Kali Angke, hingga lahan kosong milik pengembang BSD di Serpong.
Tumpukan sampah di bantaran Kali Angke sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu. Tak jelas siapa yang melakukan, saat pagi hari sampah telah menumpuk meski sempat diangkut oleh petugas.
“Waktu itu sempat diangkutin, tapi ya nggak lama udah penuh numpuk lagi. Kayaknya di sini buangnya malem-malem,” tutur Oday (36), juru parkir di dekat bantaran Kali Angke.
Di lokasi lain, tumpukan sampah juga terlihat di depan lahan milik pengembang di Jalan JPG, Lengkong Gudang Timur, Serpong. Menurut warga, sampah sengaja ditumpuk sejak lama di sana.
Tumpukan sampah di lokasi itu menebar aroma busuk. Padahal belasan meter di sampingnya terdapat SDN Lengkong Gudang Timur, fasilitas pendidikan yang menampung ratusan siswa.
“Itu udah lama ditumpuk, nggak ada tempat lagi. Mungkin karena situasinya begini (darurat). Kalau lahannya itu masih punya BSD,” ucap Budi, warga sekitar.
Pemerintah kota cukup kerepotan mengatasi persoalan sampah. Apalagi, beberapa daerah lain seperti Kabupaten Bogor dan Serang menyetop sementara kerjasama pengiriman sampah dari Tangsel.
Kementerian Lingkungan Hidup sampai turun tangan membantu penanganan sampah di Tangsel. Terbaru, dibentuk tim percepatan penanganan sampah yang berjumlah sekira 150-an pegawai untuk disebar ke seluruh kecamatan.






