Tangsel – Rencana pembangunan gedung SMPN 25 di Bukit Nusa Indah, RW16, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), akhirnya dibatalkan. Keputusan ini diambil setelah rencana pembangunan tersendat cukup lama akibat penolakan warga sekitar.
Pembatalan pembangunan di lokasi sekaligus mengakhiri polemik yang berlangsung antara warga terdampak dengan Pemerintah Kota Tangsel. Pemkot kini harus kembali mencari lokasi lain untuk pembangunan sekolah itu.
“Ya dibatalin,” ungkap Kepala Bidang Bangunan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangsel, Maryoto, Senin (21/09/26).
Maryoto mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan terkait lokasi baru yang akan digunakan untuk pembangunan SMPN 25. Setelah lokasi ditentukan oleh pimpinan, proses pembangunan akan kembali dipersiapkan.
“Masih dicari (lokasi baru),” jelasnya.
Keputusan itu mendapat respons positif dari warga yang selama ini terdampak langsung rencana pembangunan. Warga mengapresiasi langkah Pemkot Tangsel yang memilih mencari lokasi alternatif guna menghindari polemik berkepanjangan.
“Kita seneng ya karena pemerintah akhirnya bisa mendengar aspirasi kita,” terang Edy Dwi Daryono, warga yang kediamannya berada di sisi lahan proyek.
Edy menegaskan, penolakan warga bukan berarti mereka tidak mendukung penambahan fasilitas pendidikan di Tangsel. Menurutnya, warga justru mendukung pembangunan sekolah, tetapi prosesnya harus memperhatikan regulasi serta melibatkan masyarakat yang terdampak.
“Kita sangat mendukung kemajuan dunia pendidikan untuk masa depan generasi kita semua, tapi tentunya harus dilakukan sesuai ketentuan. Ada proses yang harus serius dan transparan dijalankan, agar tidak ada yang dirugikan,” ujarnya.
Sebelumnya, warga RW16 secara terbuka menyampaikan keberatan terhadap rencana pembangunan gedung SMPN 25 di kawasannya. Gedung sekolah yang direncanakan memiliki empat lantai itu diproyeksikan mampu menampung sekitar 1.000 siswa.
Penolakan warga bukan tanpa alasan. Sejumlah persoalan menjadi dasar keberatan, mulai dari keterbatasan akses jalan, potensi kemacetan akibat aktivitas antar-jemput siswa, hingga kekhawatiran terhadap kenyamanan lingkungan permukiman.
Selain itu, warga juga mempertanyakan minimnya pelibatan masyarakat dalam tahap awal perencanaan, status lahan, serta kepastian perizinan pembangunan.
Berbagai persoalan itulah yang kemudian menjadi bagian dari polemik hingga membuat rencana pembangunan SMPN 25 di Bukit Nusa Indah tak kunjung berjalan.





