Tangerang Selatan – Ketua Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari) 98 Willy Prakarsa menyatakan dukungan politiknya pada pasangan calon Wali Kota Ruhamaben-Sinta Wahyuni (Rama-Sinta) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) 2024.
Sehari setelah aktifnya masa kampanye, Willy dan simpul-simpul basis telah bergerak menyisir kantong suara. Dia meyakini, pasangan Rama-Sinta lah yang memiliki program paling objektif dalam mengatasi persoalan di tengah masyarakat.
Willy membeberkan sejumlah isu utama yang kini menghantui masyarakat. Di antaranya adalah soal lapangan kerja dan kemiskinan hingga berdampak pada tingginya angka kriminalitas di wilayah Kota Tangsel.
“Upaya menciptakan lapangan kerja hanya janji-janji dari pemerintahan Wali Kota Benyamin Davnie, dan tidak ada realisasinya. Dampaknya apa? pengangguran tinggi lalu memicu aksi kriminalitas,” katanya di Sekretariat Jari 98, Serpong, Rabu (30/10/24).
Dia mengungkap, kenyataan itulah yang membuatnya mengalihkan dukungan dari Benyamin-Pilar pada Pilkada 2020 lalu. Ben-Pilar disebutnya letoy (lemah) karena tak berdaya mengatasi tingginya pengangguran.
“Itu menjadi alasan utama, kenapa kita mengalihkan dukungan saat ini. Benyamin Davnie dan Pilar sejak terpilih pada 2020 lalu tidak serius mengentaskan soal penciptaan lapangan kerja dan pengangguran,” imbuhnya.
Willy menegaskan, dukungan politik yang diberikan pada Rama-Sinta sama sekali bukan urusan transaksional. Tapi lebih pada objektifitas pasangan mana yang mau melakukan perubahan.
“Dari bahasa tubuhnya saya yakin Rama-Sinta ini pasangan jujur, tapi sayang nggak ada uang. Kita semua tahu pasangan Rama-Sinta ini nggak ada logistiknya, tapi kenapa kita dukung? karena kita ingin perubahan bagi masyarakat, kita tidak ingin banyak pemuda kita yang menganggur, kita tidak ingin kondisi ekonomi masyarakat terus susah,” ucapnya.
Berbagai keluhan dan pengaduan masyarakat soal pengangguran itu telah didengarnya sejak dari lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pemuda Tangerang, saat dia menjalani penahanan.
“Dari waktu di Lapas, saya bicara dengan banyak tahanan dan kebanyakan mereka mengatakan tak ada kerjaan di luar sana, sehingga mereka nekat melakukan aksi kriminal. Ketika saat ini pun sama, saya sering mendapat keluhan masyarakat soal itu. Ini lah yang harus kita rubah,” paparnya.
Dia sendiri mencontohkan secara sederhana bagaimana lapangan kerja bisa diciptakan asal saja ada goodwill dan keseriusan dari pemerintah daerah setempat.
“Di sini terdiri dari 7 kecamatan, tiap kecamatan terdiri dari banyak kelurahan. Per kecamatan dibuatlah 1 yayasan misalnya, lalu dibuat lagi PT gabungan. Setelah itu dibuat kerjasama dengan real estate, perumahan, mall, dan lain-lain. Sehingga ada upaya menutup celah bagi munculnya kriminalitas,” pungkasnya.
Selain isu itu, Willy juga menyoroti lemahnya peran Ben-Pilar dalam membangun sarana dan prasarana masyarakat di Tangsel. Misalnya jalan pemukiman yang rusak, lampu PJU yang banyak padam dan tak fungsi, serta beragam fakta-fakta lain.






