PANGKALAN BUN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan membangun ratusan sumur bor di berbagai kabupaten dan kota. Fasilitas ini tidak hanya ditujukan untuk membantu pemadaman api, tetapi juga memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengatakan, sumur bor yang dibangun memiliki dua peruntukan. Sebagian difokuskan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla, sedangkan lainnya dapat digunakan sekaligus sebagai sumber air bersih bagi warga.
“Sumur bor yang kami bangun ada dua jenis. Satu khusus mendukung pemadaman karhutla, dan satu lagi untuk pemadaman karhutla sekaligus sebagai sumber air bersih bagi masyarakat,” kata Agustiar di Pangkalan Bun, Jumat (9/10/2026).
Meski pembangunan sumur bor terus dilakukan, kebutuhan tambahan sarana penyediaan air masih muncul di sejumlah wilayah. Dalam pertemuan dengan Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah, Agustiar menerima informasi mengenai permintaan pembangunan sumur bor di sekitar 15 lokasi.
Permintaan tersebut terutama berasal dari kawasan pesisir, dengan Kecamatan Kumai menjadi wilayah yang paling banyak membutuhkan fasilitas itu.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Agustiar menginstruksikan Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining untuk menindaklanjuti permohonan yang disampaikan pemerintah daerah.
“Pasti kami hadir. Kalau ada permintaan, kami pastikan untuk membantu,” tegasnya.
Selain membangun sumur bor, pemerintah provinsi juga menyalurkan bantuan air bersih ke berbagai daerah yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.
Berdasarkan data hingga 6 Oktober 2026, volume air bersih yang telah didistribusikan kepada masyarakat mencapai lebih dari 7,02 juta liter.
Penanganan karhutla dan kekeringan di Kalteng tidak hanya membutuhkan sarana pemadaman, tetapi juga dukungan untuk menjaga kesehatan serta memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak.
Agustiar menyebut upaya penanganan dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari pemadaman kebakaran, penyediaan air bersih, rumah oksigen, pelayanan kesehatan, hingga penyaluran bantuan pangan.
Berbagai langkah tersebut ditujukan untuk menghadapi dampak kemarau panjang yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan sekaligus memperbesar kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah.






